UNDER CONSTRUCTION - WEBSITE DALAM PERBAIKAN - TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Forex adalah Bisnis yang mengandung RESIKO SANGAT TINGGI, tidak seorangpun yang mampu mengendalikan pergerakan Forex ini "...harga bergerak secara acak tidak akan menjamin seseorang bisa profit secara terus menerus karena Forex adalah PERMAINAN PSIKOLOGI" kata Bill William yang terkenal dengan Chaos Teory-nya.

TRADING ADALAH BISNIS PALING JUJUR, Bisnis mandiri terlepas dari kekurangan dan kelebihannya

Trading Forex di Indonesia masih menjadi bisnis negatif bagi sebagian kalangan masyarakat kita, cap negatif itu masih menghantui dan memberikan sinyal untuk segera meningalkan bisnis ini. Ada Apa Dengan Trading ?

STRATEGY TRADING : INDICATORS VS NAKED TRADING

Dalam melakukan transaksi Forex apa yang sebaiknya kita pakai sebagai acuan dalam trading ? Amati Candlestick anda satu persatu, karena setiap perpindahan candlestick adalah signal buat kita.

Surat Keputusan (SK) No.75/BAPPEBTI/Per/12/2009 tentang Pialang Asing (PMA) di Indonesia.

PT Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) SEGERA bekerja sama dengan Pialang Berjangka Luar Negeri untuk dapat langsung bertransaksi di Bursa Komoditas kedua di Indonesia ini. Pialang Luar Negeri dapat langsung bertransaksi di Bursa Tanah Air TANPA HARUS memiliki Kantor Perwakilan di Indonesia.

TIPS TRADING : NASEHAT DARI MASTER FOREX DUNIA

“Trading itu tidak sulit. Apa yang sulit adalah disiplin dan komitmen yang diperlukan dalam aktivitas trading" - Michael Miligan. “Tidak ada alasan untuk tawar-menawar lebih delapan poin. Segera saja lakukan pembelian. Begitu juga ketika turun, jika anda berpikir harga akan turun, segera saja lakukan penjualan.” - David Ryan

Ratings and Recommendations by Outbrain

Showing posts with label Profil Kita. Show all posts
Showing posts with label Profil Kita. Show all posts

Wednesday, 18 May 2011

Andika Lubis : Dulu Loper Koran, Kini Beromzet Miliaran

Meraih kesuksesan bisnis bisa lewat banyak cara. Salah satunya aksi nekat seperti yang dilakukan Andika Lubis. Tanpa bekal, ia pergi ke Amerika Serikat. Kini perusahaan yang dia bangun sukses besar mencatat omzet hingga Rp 400 juta per bulan.

Banyak pengusaha yang sukses meski tanpa modal besar. Salah satunya adalah Andika Rama Lubis. Pria lulusan Arsitektur Institut Teknologi Nasional Bandung ini lebih banyak memulai bisnisnya dengan modal nekat. Toh, kenekatan itu menggiringnya menjadi pengusaha muda beromzet Rp 5 miliar per tahun.

Saat ini, lewat bendera Eprodeco, Andika berhasil menjadi dekorator tepercaya sejumlah pengelola mal besar di Jakarta. Kliennya mulai dari Plaza Indonesia, sampai perusahaan besar macam Panasonic dan XL Axiata. Satu proyek dekorasi bisa bernilai hingga Rp 300 juta.

Tak hanya dekorasi, lewat induk usaha PT Andrafa Abiatama, Andika juga menyediakan one stop shopping desain kreatif, printing, merchandise, dekorasi, dan event organizer. Sejak pertama kali didirikan pada 2008, klien Andrafa sudah mencapai ratusan perusahaan. Kebanyakan mereka memanfaatkan jasa Andrafa pada acara peluncuran produk.

Dari kecil, Andika yang lahir di Kinabalu, pada 18 September 1974, memang pekerja keras. Ayah ibunya selalu menekankan untuk berusaha mendapatkan apa yang diinginkannya. “Kalau mau mainan, saya harus beli sendiri dari hasil tabungan, ditambah uang ayah sedikit,” kenang Dika, begitu ia disapa.

Demikian pula saat kuliah. Lantaran usaha ayahnya di bidang desain interior bangkrut terimbas krisis moneter pada 1998, Dika harus pontang-panting mencari biaya tambahan kuliah dengan bekerja serabutan. Beruntung, kala itu Citibank menawarkan program kartu kredit untuk mahasiswa. Ia menjadi agen penjualnya. Keuntungannya lumayan. “Bisa buat nambah-nambah uang kuliah,” ujarnya.

Prinsip kerja keras itu menempa Dika menjadi tidak mudah menyerah dan berani mengejar mimpi. Selulus kuliah, ia sempat bekerja di satu perusahaan. Tapi, tak seberapa lama, ia memutuskan mundur lantaran ingin ingin menimba ilmu dan mendapatkan pengalaman kerja di Amerika Serikat (AS).

Dengan bermodal pinjaman dari sang nenek sebesar Rp 10 juta untuk membeli tiket, Andika nekat pergi ke AS. Padahal, saat itu situasi tengah genting setelah terjadi tragedi WTC 11/9. Beruntung, ia lolos di pembuatan visa turis sampai administrasi di bandara. Karena hanya berbekal uang 100 dollar AS dari pamannya, ia terpaksa tidak makan saat pesawat transit di Singapura dan Jepang.

Sesampai di AS, Dika menyambangi tantenya untuk menumpang hidup. Lantaran hanya menumpang, ia tak berani meminta uang lebih. Ia memutuskan mencari pekerjaan. Peluang termudah adalah menjadi loper koran. Kebetulan, ada seorang loper koran dekat tempat tinggal tantenya mempercayakan pekerjaannya ke Dika.

Saban dini hari, Dika mengantarkan koran dengan meminjam mobil sang tante. Upah mengantar koran lumayan. Dalam dua minggu, ia mendapatkan bayaran 1.500 dollar AS. Tak sampai dua bulan, ia bisa bayar utang ke neneknya.

Hidup Dika juga banyak ditopang oleh belas kasih orang lain. Selama belum memiliki visa kerja, ia ditolong seorang warga China-Amerika. “Saya menggunakan ID dia selama bekerja,” ujarnya.

Tidur cuma dua jam

Singkat cerita, Dika mendaftarkan diri untuk mendapatkan visa pelajar. Ia ingin kuliah di universitas swasta di bidang manajemen bisnis. Tak disangka, ia diterima.

Sembari kuliah, Dika menambah jam kerjanya dengan menjadi penjaga toko, mulai dari pukul 16.00 sampai pukul 22.00. Ia tidur selama dua jam, lantas mulai pukukl 24.00 hingga pukul 06.00 mulai mengantar koran. Ia melanjutkan waktunya untuk kuliah mulai pukul 7.00 pagi sampai pukul 13.00 siang. “Saya melakukan rutinitas itu selama empat tahun,” ujar Dika.

Pada tahun 2003, ada kabar duka datang dari Indonesia. Ayahnya meninggal dunia karena sakit. Ibunya memanggil pulang Dika. Ia harus menggantikan sang ayah sebagai tulang punggung keluarga. Dengan berat hati, Dika meninggalkan bangku kuliah dan memulai usaha dari nol di Indonesia.

Usaha pertamanya adalah membangun creative design dan event organizer bersama seorang teman. Usaha itu sempat sukses dan berhasil membukukan omzet hingga Rp 2 miliar per tahun. Sayang, lantaran ada konflik internal, Dika memutuskan keluar.

Bermodal uang tabungan, bersama sang istri, Rany Fauziah Pospos, yang dinikahinya pada tahun 2005, Dika membangun usaha tandingan. Lewat bendera Andrafa Abiatama, ia mulai mendapatkan aneka proyek. “Pertama, saya dipercaya Panasonic menyediakan aneka merchandise dan produk printing,” kata Dika.

Dika juga menggarap dekorasi mal dan interior apartemen. Sejumlah apartemen di Jakarta pernah mendapat sentuhan desain Andika. Kini, ia tengah bernegosiasi membangun dekorasi panggung acara sirkus. “Nilainya mencapai Rp 700 juta karena panggungnya harus kuat dinaiki gajah,” kata Dika. 

(Diade Riva Nugrahani/Kontan)

dikutip dari  : Kompas 


Monday, 9 May 2011

Halex Halim : Saya Takut Miskin

Belum terlihat tanda-tanda kelelahan dalam diri Halex Halim pada usianya yang sudah mencapai 70 tahun. Semangatnya masih membara. Bahkan, bagi dia, semangat dan kerja keras adalah modal utamanya membangun bisnis alat berat di Intraco Penta. Untuk mengetahui pengalaman dan suka dukanya dalam berbisnis, simaklah petikan wawancara berikut.
 
Bagaimana awalnya terjun ke bisnis alat berat?
Ketika masih remaja, saya pernah gagal di suatu bisnis dan terpaksa menganggur di rumah. Waktu itu teman-teman saya sudah bermain di alat-alat traktor, tetapi mereka mainnya kecil-kecilan. Suatu saat mereka menawari saya untuk joint, mereka tahu spare part, saya tahu bidang pengelolaan keuangan, administrasi, dan hubungan luar negeri. Waktu itu saya pikir boleh juga, jadi saya coba.

Dari sanalah mulainya. Dari segi timing, waktu kami mulai dagang itu pas sekali, karena tahun 70-an perekonomian Indonesia itu mulai berkembang dan sudah mulai zaman Orde Baru Soeharto. Waktu itu pintu sudah mulai terbuka dan pemerintah mempunyai solusi untuk menggenjot ekspor, termasuk salah satunya kehutanan, logging, dan ekspor.
Waktu tahun 70-an itu sudah mulai ada traktor yang masuk, jadi kami melihat ini peluang yang bagus sekali. Tidak ada agen tunggalnya disini, orang-orang asal saja menebang kayu. Persediaan suku cadang sangat terba tas, akibatnya pengusaha logging mencari spare part dengan prinsip yang penting ada, urusan harga itu nomor dua. Kami melihat ini sebagai peluang emas, maka kami terjun di bidang ini.

Apakah sudah menggunakan bendera Intraco?
Pertama kali bentuknya masih UD (usaha dagang), namanya UD Intraco. Istilah Intraco sendiri singkatan dari Indonesia Tractor. Waktu itu kami berempat, yaitu saya, kakak saya dan dua orang teman saya. Berempat kami mulai dan kami semua pendidikannya hanya SMP [sekolah menengah pertama], jadi tidak ada yang bisa baca katalog karena pakai bahasa Inggris.

Lalu kami mulai belajar membaca katalog, setiap sore kami undang staf ahli bagian spare part datang ke kantor kami untuk menjelaskan dan mengajari kami tentang suku cadang. Waktu itu benar-benar kami hanya modal berani dan nekat. Kami mulai berempat, semua kami kerjakan sendiri, modalnya juga sedikit, hanya beberapa ratus ribu waktu itu.
Akhirnya kami utang, kami dapat utang dari Singapura.

Apa dengan memulai bisnis ini, bisnis orangtua langsung ditinggalkan?
Orangtua saya kan cuma menyewakan becak. Waktu kami ambil alih dari bapak saya, bisnis sewa becak sudah saya hentikan, cuma dagang spare part-nya aja. Jadi bisnis becak itu berhenti total kira kira pada 1959.

Kapan mulai agak besar?
Kami mulai juga setengah mati.
Selama 3 tahun, istilahnya kami tidak pernah tahun baru. Jadi kalau malam tahun baru, kami tidak pernah ngumpul makan-makan, asal makan sajalah. Anak saya lahir tiga orang dalam keadaan susah. Jadi ini betul-betul anugerah dari Tuhan. Kami mulai bekerja dengan modal berani dan yakin bahwa bidang usaha ini dibutuhkan. Betul, bisnis ini mulai benar-benar meledak pada 1975, semenjak membuka cabang di Balikpapan, karena Balikpapan adalah lokasi yang paling dekat dengan kegiatan logging.

Pada 1976, kami yang tadinya berempat jadi tinggal berdua karena teman saya yang dua orang memisahkan diri. Mereka berdua keluar dan mendirikan usaha sendiri di bidang yang sama. Masalahnya karena kami punya sifat dan pandangan yang berbeda. Kalau saya, waktu mulai ada untung pun saya usulkan tidak usah dibagi, tetapi untuk memperbesar perusahaan, karena kami perlu modal.
Kalau mereka, kalau untung langsung dibagikan.

Lalu dari 1975, bagaimana mengembangkan usaha?
Balikpapan akhirnya kami jadikan sentral di Kalimantan Timur untuk menunjang Samarinda, Tarakan, Banjarmasin, dan yang lainnya yang kecil-kecil. Seterusnya hampir tiap tahun kami buka cabang karena memang demand-nya ada. Waktu itu Caterpillar sudah ada, Truckindo namanya. Komatsu juga sudah ada tetapi namanya United Tractors.
Supaya bisa bersaing dengan agen, saya kemudian rajin cari buku dan mencari tahu tentang spare part dan alat berat. Sering saya melihat kotaknya Caterpillar, tetapi isinya lain. Isinya bisa BOB. Baru saya tahu BOB itu spesialis bikin pattern. Oh rupanya BOB ini adalah supplier OEM (original equipment manufacturer). Saya akhirnya lari ke dia. Setelah saya pelajari dan saya minta ke pabriknya, dia mengirimi saya buku dan akhirnya saya pilih di sana.

Jadi waktu saya jual, saya punya modal 50% di bawah mereka. Saya jual 70 perak saja, saya sudah untung 70%. Namun, saya kasih tahu customer ini barang OEM. Saya suruh mereka lihat produk Caterpillar. Saya bilang Caterpillar juga memakai ini.
Lalu mereka lihat benar dan percaya. Mereka bilang berarti ini sama juga asli, apalagi harganya lebih murah 30% dari asli, bedanya cuma packing.
Nah dari situ saya rajin cari replacement dari supplier OEM. Kami bisa dapat 80% dari kebutuhan traktor itu di luar merek Caterpillar. Memang yang paling terkenal waktu itu di jakarta adalah Intraco sebagai pemain replacement part. Kami main Caterpillar, Komatsu, semua ada replacement-nya sampai hari ini.

Kapan Anda merasa bisnis ini paling booming?
Saya untung paling banyak itu antara 1982-1990, untuk keperluan logging. Waktu itu banyak supply ke hutan kayu dan perminyakan. Pada 1990 mulai mereda karena mulai ada aturan untuk logging.
Namun, barang kami ini tidak hanya untuk kayu saja. Waktu logging boom kami konsentrasi di situ, waktu slow down kami juga tetap pupuk hubungan tetapi lebih konsentrasi di bidang lain. Jadi silih berganti satu sama lain. Waktu booming itu saya sudah ada tujuh cabang, yakni di Balikpapan, Samarinda, Tarakan, Banjarmasin, Pontianak, Palembang, dan Surabaya.

Bagaimana ceritanya bisa akuisisi agen Volvo?
Pada 1985 itu namanya NV PD Pamitran, saat itu pemiliknya baru meninggal dunia. Yang mewarisi tinggal ibunya dan dia tidak mampu. Dia lihat ini sudah sulit untuk maju dan dia putuskan untuk jual, maka saya beli perusahaannya, termasuk beberapa saham teunan dan spare part-nya.

Bagaimana awalnya Anda memiliki ide untuk membawa Intraco Penta menjadi perusahaan public?
Saya kursus di LPPM sekitar 1980 dan pada 1987 saya join kursus di Singapura, itu University of Singapore karena ada bahasa Mandarin, saya ambil short course selama 2 minggu. Di sana saya banyak dapat pengetahuanpengetahuan dalam hal mengelola hubungan manusia. Kenapa orang Tiong Hoa itu kekayaannya hanya bisa sampai generasi ketiga? Itu juga saya pelajari. Saya takut bisnis keluarga ini tidak bisa berlangsung lama, karena itu saya ambil keputusan kami go public.

Pertama-tama, memang waktu itu saya sudah pakai tenaga profesional dan disarankan go public, supaya kami bisa risk money dan kembangkan usaha ini. Namun di dalam hati saya, yang paling penting itu adalah supaya anak-anak dan keluarga kami, yang waktu itu ada kakak saya dan dua orang adik saya, itu bisa kompak dan terikat oleh public company.
Selain itu, kalau sudah public company, otomatis akan ada aturan main kalau ada anak-anak kami yang mau duduk di perusahaan. Artinya, tidak bisa seenaknya lagi. Ini ada HRD, jadi harus tes dulu dan mulai dari bawah, jadi tidak ribut. Pertimbangan utama saya adalah saya tidak mau perusahaan yang sudah susah payah kami dirikan ini tidak bisa dinikmati lagi oleh generasi ketiga.

Go public sudah paling bagus, kalau kami sudah go public, perusahaan kami akan berkembang dan butuh tenaga banyak. Jadi nanti keponakan kami berapa banyak pun bisa tertampung. Itu yang ada di pikiran saya.

Ketika go public, sudah ada unit bisnis apa saja?
Masih divisi alat berat saja. Pada 1995 Petrus baru bergabung dengan kami, setelah pulang dari Amerika Serikat dan bekerja di bank selama 2 tahun. Waktu itu dia mulai memikirkan cara bagaimana kembangkan perusahaan.
Dia punya konsep no limit to carrying, tanpa batas untuk melayani customer. Lalu terpikirlah konsep total solution. Dari perbaikan, penyewaan, pembiayaan, kontraktor, dan engineering. Mulai ide dari 1995, tetapi realisasinya bertahap, sesuai dengan kemampuan. Yang lebih matang sekitar 2000, setelah krisis lebih kami perhatikan lagi.
Yang pertama dibentuk CCI untuk pabrikasi, karena kami agen mitra. Baru terus meningkat ke penyewaan, terus kontraktor, sekarang ada pikiran ke tambang juga, tambang baru bara di Kalimantan.

Kapan masa-masa paling sulit saat menjalankan bisnis ini?
Tahun 1997. Sebenarnya bisnis kami tidak susah, karena kami tidak berlebih-lebihan. Kami apa adanya di bidang sendiri. Cuma namanya bisnis, kami perlu modal kerja untuk beroperasi. Saat 1997-1998 itu kan sudah diblokir semua. LC tidak bisa buka, kredit baru tidak cair, kami tidak bisa ekspansi.
Nah, situasi ini tetapi membuat kami untung juga. Orang yang punya alat itu, karena dia tidak ada modal lagi untuk beli alat berat, maka yang lama dia harus perbaiki. Saya punya pegawai cuma 120 atau 130, langsung menjadi 700 dalam setahun. Karena itu dibutuhkan sekali pada saat itu, banyak orang minta perbaiki alatnya.

Apa filosofi utama Anda dalam menjalankan bisnis?
Ada lima prinsip. Harus rajin, tahan banting, yakin dan tekun, harus mengabdi dan membalas budi pada orangtua dan mawas diri. Ini nilai yang diambil dari ajaran Confusius.

Siapa yang paling berpengaruh dalam menumbuhkan semangat Anda dalam berbisnis?
Saya kira situasi, karena saya takut miskin. Karena dulu saya susah, dari kecil sudah susah, jangan sampai susah lagi.

Bagaimana Anda mempersiapkan anak-anak Anda untuk terjun ke dunia bisnis?
Dari awal mereka saya persiapkan dengan baik dan belajar di luar negeri. Setelah itu mereka bantu saya. Ketty, anak saya tertua, sudah membantu saya terlebih dahulu pada awal 90-an di Intraco, setelah beberapa waktu sebelumnya bekerja di bank swasta. Lalu, Petrus yang selesai kuliah 1993, setelah 2 tahun bekerja di satu bank asing, saya tarik untuk bergabung di Intraco. Sekarang, dia direktur utama.

Apa Anda masih sering mengontrol pekerjaan Pak Petrus dan manajemen lainnya?
Ya kontrol, kan ada sistemnya, artinya melalui rapat setiap bulan itu, rapat komisaris. Namun, saya sudah yakin dengan anak-anak, sudah pintar, bisa diandalkan.

Ada impian lain yang menurut Anda belum terwujud?
Saya rasa cukuplah. Impian saya sekarang itu, sudah seumur ini, sewajarnya saya harus mengabdi kepada masyarakat. Karena itu saya ada beberapa perhimpunan, seperti saya sebagai ketua di yayasan, ada beberapa nonprofit, cuma kerja sosial. Juga ini ada citacita mau bangun sekolah di Jakarta untuk tingkat SD dan SMP.
Karena masih kurang sekolah yang tarafnya lumayan. Ini sekarang lagi cari tanah. Jadi sudah seumur ini, saya biarkan anak saya yang kerja, saya lebih ke pengabdian kepada masyarakat. Apa saja lah.

Apa pesan untuk anak-anak muda yang ingin menjadi enterpreneur?
Saya kira kalau mau sukses, kunci utama itu harus tekun dan yakin. Tekun terus, bahkan ketika di tengah ada guncangan, harus tetap tekun dan rencana jalan terus. Yang namanya bisnis, itu tidak tiap saat kami ada di downstream, tetapi ada saatnya juga di atas. Jadi harus tekun dan sabar.

by : Bunga Dewi Kusuma & Abraham Runga Mali
www.bisnis.com

Wednesday, 30 March 2011

Gary Bielfeldt & Bill Lipschutz

Salah satu trader dunia yang tercatat  sukses dalam waktu cepat  adalah Gary Bielfeldt mengawali tradingnya dengan modal $ 1000  untuk membeli kontrak jagung berjangka, dan mendapat keuntungan dua kali lipat karena harga naik dengan cepat. Setelah itu Gary mendapat kepercayaan diri dan mendapat profit konsisten sepanjang tahun. Saat ini Gary adalah trader utama produk berjangka obligasi T, sebuah pasar berjangka terbesar di dunia.
Bagi anda  trader yang baru memulai dalam bisnis ini, Gary berpesan bahwa para pemula tidak boleh mengambil risiko tinggi untuk trading awal mereka. Dengan modal kecil mereka, mereka kemungkinan akan terkena dampak kerugian.Setelah ini terjadi, mereka kemudian akan harus bekerja sangat keras untuk mendapatkan kembali uang kerugian mereka.
Oleh karena itu, pada tahap ini, seorang pemula harus selektif menentukan jumlah risiko yang mereka ambil dengan leverage yang lebih kecil. Seiring waktu, jika sudah profit konsisten, maka mereka bisa menambah jumlah lot mereka.

Bill Lipschutz - Mengungkap Sisi Bawah Sadar Dalam Trading

"Saya tidak bertrading berdasar mimpi atau rumor. Saya seorang trader yang mempunyai dasar. Saya mencoba untuk mengumpulkan fakta dan memutuskan jenis skenario yang saya pikir akan terungkap " kata Bill Lipschutz, dalam bukunya Market Wizards.

Ketika Bill bermimpi tentang keseimbangan dalam permintaan dan penawaran dollar, maka dia tidak mengambil tindakan berdasarkan mimpinya. Namun demikian, mimpinya hidup kembali keesokan harinya, dengan angka perdagangan yang persis cocok dengan mimpinya dan harga yang cocok dengan urutan mimpinya. Namun, Bill tidak mengambil posisi trading. Mengapa ?
Hal ini bermuara pada fakta bahwa Bill telah disiplin untuk mengikuti prinsip dasar tentang menempatkan order hanya dengan perhitungan yang matang. Dia akan selalu menganalisis fakta-fakta untuk menentukan pembenaran untuk trading sebelum menempatkan satu posisi. Dikamar Bill tersedia layar monitor 24 jam yang berguna untuk menentukan arah pasar, untuk bahan analisa pengambilan posisi dan angka untuk order. Namun demikian, Bill tetap bersikeras pada pendiriannya  hanya mengikuti indikator fundamental tidak lainnya. 

Bagaimana dengan anda sobat ? sudah memiliki style trading sendiri atau masih mencari cari mana yang cocok untuk anda ?

Tuesday, 26 October 2010

Gain 14.500% : Kisah Eddy 'Menyulap' Saham AQUA ala Warren Buffet

Luar Biasa kisah  ini adalah salah satu bukti buah dari kesabaran dan disiplin yang harus dimiliki seorang investor dalam mengelola portofolio keuangannya di bidang investasi keuangan yang patut kita tiru :))

Eddy Rustanto mungkin bukan seorang investor kakap bermodal miliaran rupiah. Namanya boleh jadi tidak dikenal publik. Namun tidak mustahil jika dirinya akan menjadi sosok impian setiap investor saham.

Jika Warren Buffet dikatakan pernah menyulap saham Coca-Cola seharga US$ 1 per saham menjadi US$ 1.000 per saham, mungkin kisah yang 'hampir' sama akan dialami Eddy.

Pada tahun 1990, tepatnya pada tanggal 1 Maret 1990, PT Aqua Golden Mississippi menggelar penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Dengan mencatatkan saham sebanyak 6.000.000 saham. Harga pelaksanaan IPO perusahaan yang menyandang kode AQUA ini sebesar Rp 7.500 per saham dengan nilai nominal Rp 1.000 per saham.

Eddy Rustanto, merupakan salah seorang investor yang berpartisipasi dalam IPO itu. Tak banyak yang ia beli, jumlahnya tidak sampai 1 lot. Sebagai catatan, untuk masa itu, investor dimungkinkan membeli saham berjumlah di bawah 500 lembar (1 lot) atau yang dikenal dengan istilah Odd Lot (lot ganjil).

"Waktu itu saya beli cuma 100 lembar saham pada harga IPO. Tujuannya ya investasi, iseng-iseng beli, siapa tahu bisa untung di kemudian hari," ujar Eddy kepada detikFinance, Senin (20/9/2010) malam.

Itu berarti, modal yang dikeluarkan Eddy untuk berpartisipasi dalam IPO AQUA hanya sebesar Rp 750.000. Pada tahun 1994, AQUA membagikan saham bonus dengan rasio 2:1 atau setiap pemegang 2 saham akan memperoleh 1 saham baru.

Pada tahun 1995, AQUA kembali menggelar aksi pembagian saham bonus dengan rasio 10:3 atau setiap pemegang 10 saham akan memperoleh 3 saham baru. Kemudian pada tahun 1997, AQUA membagikan dividen saham dengan rasio 8:1 atau setiap pemegang 8 saham akan memperoleh 1 saham baru.

Demikianlah sejak 1997 total saham AQUA dalam modal disetor dan ditempatkan penuh sebanyak 13.162.473 saham, jumlah yang sama hingga hari ini.

Bersamaan dengan serangkaian aksi itulah, tanpa menambah modal apa pun jumlah saham Eddy kini berlipat 2,19 kali menjadi 219 lembar saham. "Jumlah saham saya saat ini segitu, 219 lembar," ujarnya.

Pada akhir 2001, AQUA menggalang rencana go private alias mengubah statusnya menjadi perusahaan tertutup. Untuk keperluan itu, AQUA menawarkan harga tender offer sebesar Rp 35.000 per saham. Sayangnya rencana itu tidak disetujui pemegang saham lantaran harga saham AQUA merambat naik hingga menyentuh level yang sama dengan harga tender.

Pada akhir Agustus 2001, harga AQUA masih di level Rp 15.000-an. Pada Desember 2001, harganya telah menyentuh level Rp 35.000 per saham.

"Waktu itu memang pemegang saham minoritas meminta harga lebih tinggi, karena harga tender sama dengan harga di pasar. Makanya waktu itu rencana go private akhirnya gagal karena tidak dapat restu pemegang saham," tutur Eddy.

Lama berselang, AQUA kembali menggelar rencana go private pada akhir 2005. Ketika itu harga AQUA di pasar reguler berkisar di level Rp 50.000 per saham, sedangkan harga tender yang ditawarkan AQUA sebesar Rp 100.000 per saham.

Pada RUPS 14 November 2005, jumlah investor independen yang hadir hanya 52,74%, jauh dibawah ketentuan Bapepam-LK minimal sebanyak 75%. RUPS ke 2 digelar pada 2 Desember 2005. Namun yang hadir hanya 39,27% saja. Dan pada RUPS ke 3, batasan kuorum tetap tidak dapat dipenuhi.

Oleh sebab itu, otomatis rencana go private ini kembali gagal. Pertanyaannya kemudian, mengapa investor-investor memutuskan tidak hadir?

Menurut Eddy, saat itu memang ada pihak-pihak yang membisikkan pemegang saham minoritas untuk menjegal go private AQUA dengan alasan harga tender yang ditawarkan terlalu murah.

"Saat itu saya termasuk yang setuju dengan rencana go private. Tetapi ada beberapa investor minoritas yang punya saham cukup banyak, mendesak manajemen menaikkan harga tender. Padahal saat itu, banyak sekali pemegang saham minoritas yang setuju dengan harga yang ditawarkan," ungkap Eddy.

Hal senada diungkapkan oleh Yuli, ibu dari Ardhian Indrayana yang diberi surat kuasa atas kepemilikan 6.163 lembar saham AQUA milik Ardhian.

"Memang sangat disayangkan kalau dari kemarin-kemarin gagal terus karena ada investor besar yang meminta harga terlalu tinggi. Padahal, kita yang hanya punya sedikit ingin menjualnya sejak lama. Masak karena yang besar-besar itu, kita yang kecil-kecil jadi rugi?" keluh Yuli.

Meski gagal pada tahun 2005, AQUA belum menyerah. Pada tahun 2010 ini, manajemen AQUA kembali mencanangkan skema go private. Harga yang ditawarkan pun naik drastis menjadi Rp 500.000 per saham.

Sebagai catatan, harga saham AQUA di pasar reguler sebesar Rp 244.800 per saham, sedangkan di pasar negosiasi (NG) dan pasar tunai (TN) sebesar Rp 350.000 persaham.

"Harga tender offer dari PT Tirta Investama sebagai pemegang saham kendali," ujar Direktur Utama AQUA, Parmaningsih Adinegoro.

Komposisi pemegang saham AQUA adalah PT Tirta Investama 12.419.090 saham(94,35%) dan publik 743.383 saham (5,65%). Dengan harga sebesar Rp 500 ribu per
saham, maka total dana yang harus dirogoh Tirta Investama sebesar Rp 371,691
miliar.

Untuk keperluan ini, AQUA akan menggelar RUPS pada 22 September 2010 dalam rangka meminta persetujuan pemegang saham minoritas. RUPS kali ini sedikit berbeda. Manajemen AQUA telah mewanti-wanti kepada pemegang saham kalau penawaran kali ini merupakan kesempatan terakhir pemegang saham untuk menjual sahamnya di harga tinggi.

"Ini sudah merupakan penawaran terbaik. Kalau perseroan tetap jadi perusahaan publik, maka harga saham akan tergantung mekanisme pasar dan pemegang saham, terutama yang memegang saham odd lot (jumlah saham di bawah 500 lembar saham) dimana banyak pemegang saham perseroan yang seperti ini, akan kehilangan kesempatan untuk menjual pada harga seperti yang ditawarkan pada tender offer. Artinya kesempatan emas akan hilang," jelas Parmaningsih.

Parmaningsih mengakui, ancaman penolakan masih mungkin terjadi pada RUPS kali ini. Namun ia bersama manajemen AQUA memastikan kalau penawaran kali ini merupakan penawaran terakhir yang akan diberikan AQUA. Jika gagal, maka tidak akan ada lagi skema go private.

"Kalau tetap ada penolakan, maka tidak akan ada lagi aksi korporasi. Ini upaya terakhir dan maksimal yang bisa ditawarkan kepada pemegang saham," tegas Parmaningsih.

Meski demikian, Parmaningsih optimistis kalau pemegang saham minoritas akan menyetujui skema go private pada kesempatan kali ini. Sebab, banyak pemegang saham minoritas yang telah menyampaikan konfirmasi atas kesiapannya mendukung rencana tersebut.

"selama ini banyak pemegang saham yang sudah menghubungi perseroan menyatakan keinginan untuk menjual sahamnya," ujar Parmaningsih.

Yuli pun menyatakannya kesiapannya mendukung rencana ini. Ia mengaku tidak melihat alasan untuk menolak rencana ini.

"Buat apa repot-repot minta harga tinggi kalau ujung-ujungnya malah nggak dapat apa-apa. Manajemen kan sudah bilang kalau ini penawaran terakhir, jadi saya pikir sebaiknya semua pemegang saham minoritas setuju saja lah, supaya sama-sama enak, semuanya untung," ujarnya.

Hal itu pun diakui oleh Eddy. Ia pun mengaku siap mendukung rencana go private AQUA dalam RUPS 22 September 2010.

"Kalau saya sih melihatnya, harga yang ditawarkan sudah sangat bagus. Kapan lagi bisa jual pada harga segini. Kalau jual di market sulit, tidak ada posisi. Lagipula ini kesempatan terakhir kan, kalau tidak jual sekarang, kapan lagi?" ujar Eddy.

Bagaimana tidak, dengan modal membeli 100 lembar saham sebesar Rp 750.000, Eddy bakal memperoleh dana sebesar Rp 109,5 juta dari penjualan 219 lembar sahamnya di harga Rp 500.000 per saham. Itu berarti, selisih keuntungan (gain) yang diperoleh Eddy dari penantian selama 20 tahun sejak IPO AQUA mencapai 14.500%!!

dro/qom/detikfinance/Media Pontianak

Tuesday, 19 October 2010

Aburizal Bakrie : Jangan Berdiri di Tempat Gelap

by : Maria Y. Benyamin, Wisnu Wijaya, Sutan Eries Adlin, Lahyanto Nadie, Abraham Runga Mali

Sejatinya sulit menemukan tokoh di negeri ini yang bisa meramu urusan politik dan bisnis menjadi satu. Media Pontianak kali ini menyajikan Profil Aburizal Bakrie yang dilahirkan di Jakarta, 15 November 1946 lalu dalam sepak terjaknya di dunia Politik dan Bisnis.

Ketika bicara Aburizal Bakrie, kental dengan urusan politik, sedangkan Nirwan Bakrie berhubungan erat dengan bisnis yang kian menggurita.

Grup Bakrie sering membuat keputusan tiba-tiba di dunia politik dan bisnis. Banyak membuat orang terhenyak. Itu mungkin karena pemikiran out of the box dan garis tangan Aburizal Bakrie yang sering menang di kancah politik. Di balik itu semua, Aburizal ingin terus bisa membagikan nasihat kepada orang lain. Berikut wawancara dengan Aburizal Bakrie di kantornya belum lama ini:

Di bisnis Grup Bakrie, siapa sebenarnya yang berperan ?

Saya kira saya sudah out of context, saya tidak ikut-ikutan berbisnis lagi, sama sekali. Bahkan banyak bisnis pun saya tidak mengetahui. Tiba-tiba ditanya sama orang, punya kebun di sini? Saya katakan, nggak ada. Namun, kemudian pas acara Golkar, ada orang pakai baju Bakrie. Saya Tanya kenapa kalian di sini? Mereka bilang, Pak...saya dari kebun di sini.

Pada prinsipnya, Grup Bakrie sudah dikelola seluruhnya secara profesional dan Bakrie sudah menjadi institusi sendiri.

Dia tidak lagi merupakan suatu perusahaan keluarga. Saham keluarga sangat minimum sekali. Contohnya di Bumi [PT Bumi Resources Tbk]. Di Bumi, keluarga Bakrie memiliki 22% saham. Dari 22% saham, itu yang punya Bakrie & Brothers.

Bakrie & Brothers dimiliki oleh keluarga Bakrie sebesar 40%. Jadi sebetulnya kalau kami lihat, berapa persen sih keluarga Bakrie memiliki Bumi? Itu hanya 8,8% saham, yaitu 40% dikalikan 22%.

Jadi tidak lagi bisa dibilang Bumi merupakan perusahaan keluarga seperti Siemens di Jerman, Sumitomo, Mitsubishi dan sebagainya.

Kami mulai menerapkan sistem secara profesionalisme dalam manajemen pada waktu Tanri Abeng pada tahun 1990-an. Dengan begitu, sekarang kami melihat seluruhnya sudah full professional, tapi ada chairman-nya. Pak Nirwan Bakrie adalah Chairman dari Bakrie Group. Seluruh sisi perusahaan yang besar-besar, yang kecil tidak, yang kecil seluruhnya dikelola oleh professional seperti direksi dan komisaris.

Kalau dulu, saya Chairmannya. Anin [Anindya Bakrie] adalah sebagai salah satu eksekutif. Dia komisaris di TVOne, tetapi dia presiden direktur di ANTV, presiden direktur di Bakrie Telecom. Jadi kalau masalah-masalah yang rutin setiap hari, perkembangan perusahaan, dia tidak perlu melaporken ke Pak Nirwan. Begitu ada suatu yang besar, yang strategis sifatnya, misalnya rencana penggabungan Esia dan Flexi, pasti dia akan laporkan ke Pak Nirwan, apakah ini benar atau tidak dan sebagainya.

Jadi perusahaan Bakrie ini sudah merupakan suatu intitusi sendiri. Dia tidak lagi perusahaan keluarga. Perusahaan keluarga ya Bakrie & Brothers. Bakrie & Brothers dulu kami katakana operasional, tapi sekarang dia memegang saham di berbagai perusahaan. Nah itu yang dinamakan perusahaan keluarga Bakrie & Brothers. Tapi kalau yang lain bukan.

Grup Bakrie besar di tangan Anda. Nilai apa yang diberikan Pak Achmad Bakrie, sehingga Anda seperti sekarang ini ?

Prinsip Bakrie, setiap sen yang dihasilkan oleh perusahaan harus berguna bagi masyarakat. Itu prinsip yang terus dipegang teguh. Tapi kalau kami lihat, sekarang guidance yang kami berikan, pertama, dia harus profesional, kedua dia harus nasionalistik. Ini yang orang selalu lupa.

Pada waktu membuat lambang Bakrie & Brothers, itu tidak dibuat hanya didesain begitu saja. Itu dilakukan dalam 6 bulan. Yang buat namanya Lander, yang juga membuat lambang olimpiade Barcelona.

Dia mendatangi seluruh perusahaan Bakrie. Apa yang dilihat di sana? Rasa nasionalisme yang begitu tinggi dari mulai puncak perusahaan sampai dengan di bawah. Akhirnya timbulah suatu logo yaitu tanah dan bintang. Yang merahnya itu adalah weluku yakni pembajak tanah, dan bintang. Bintangnya bintang tujuh. Apa itu? Reach for the star, put your feet on the ground.

Rasa nasionalisme yang tebal itu yang menghidupkan Bakrie sehingga kami bisa melihat pada saat pada waktu itu saat krisis, seluruh aset yang ada di luar negeri kami jual.

Misalnya yang ada di Australia, kami punya tanah 3,5 juta hektar, kepemilikan sampai kapan saja, lebih besar dari Timor-Timur, sebesar Jawa Barat. Isinya ada 60.000 sapi. Tentu Kangguru begitu banyak, kuda Australia, buaya, dan sebagainya.

Apa yang kami lakukan pada saat krisis waktu itu? Saya jual tanah itu hanya dengan harga A$18 juta. Bayangkan aset yang begitu besar, karena begitu distressed-nya, biasanya orang susah dia ditekan, aset luar negeri lah yang kami jual dan semua uangnya dipakai untuk mengurusi yang ada di Indonesia.

Yang ketiga, kekuatan dari keluarga Bakrie adalah bersatunya seluruh anak-anak dan cucu-cucu Bakrie. Alhamdullilah dalam keadaan suka maupun senang kami tetap bersatu.

Basically dari pada ini semua adalah pendidikan. Pak Bakrie itu sekolahnya sekolah dasar. Saya S1 (Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (1973), Nirwan S2, anak-anak kami semuanya S2. Kalau orang mempunyai pendidikan, maka dia tidak akan berebut harta. Yang mereka perebutkan achievement. Masing-masing ingin mendapatkan achievement, bukan uang.

Dia tidak akan buta. Itulah kekuatan keluarga Bakrie sampai saat ini. Alhamdullilah, saya melihat pada generasi ketiga, yakni generasi Anindya, dia menjadi satu tokoh pemersatu dari pada sepupu-sepupunya.

Bagaimana pembagian saham dari Pak Achmad Bakrie kepada anak-anaknya waktu itu ?

Sama semua. Pada waktu Pak Achmad Bakrie nggak begitu. Satu untuk perempuan dan dua untuk laki-laki, sesuai dengan hukum Islam.

Kalau kami punya adalah 2/7, 2/7, 2/7, 1/7. Adik saya yang perempuan 1/7. Yang laki-laki semuanya 2/7. Dalam perkembangannya pada generasi kedua dan ketiga, laki dan perempuan sama. Tidak lagi kami bagi-bagi seperti itu. Tapi yang paling penting bukan hanya pembagian. Yang penting lebih atau kurang di antara kami tidak jadi masalah.

Menurut saya yang paling penting dari ayah saya adalah pendidikan. Begitu ada pendidikan, orang tidak akan ribut. Dia akan berpikir pada achievement.

Jadi kalau lihat bagaimana Bakrie mengelola, dia dikelola oleh direktur, diawasi oleh komisaris. Keluarga di mana? Hanya pada keputusan penting. Pak Indra Bakrie mengambil keputusan penting pada bisnis minyak, tapi untuk seluruhnya adalah Pak Nirwan.

Anindya mengambil keputusan penting pada bisnis ICT (information, communication, technology), semua itu yang ambil keputusan Anin, tetapi pada saat keputusan penting, dia report kepada chairman. Dia tidak melaporkan ke saya. Saya nggak tahu lagi urusan bisnis.

Apakah Pak Anindya ini generasi ketiga yang dipersiapkan untuk menjadi the next chairman ?

Nggak ada persiapan. Jadi lihat pada achievement masing-masing. Misalnya Ardie [Ardie Bakrie], dia hanya Wakil Dirut di TVOne, dia tidak urus yang lain. Dita, anak saya yang perempuan, dia hanya menjadi salah satu eksekutif pada marketing di Epicentrum, dia tidak masuk di board-nya. Dia di situ karena dia yang mau kerja di situ, jadi nggak ada yang diarahkan ke mana.

Bahkan kami tidak mengarahkan sekolahnya mau ke mana. Misalnya Dita, dia ambil S1 Sastra Perancis. So what? Semuanya mempunyai kebaikan. S2, dia mengambil jurusan komunikasi. Kalau Ardie, S1 dan S2-nya ambil bisnis. Kalau Anindya, S1-nya teknik industri, , S2 bisnis. Jadi masing-masing ini tidak dipersiapkan untuk itu. Saya tentu memberi nasihat, sebagai orang tua, baik kepada adik-adik saya maupun anak-anak saya, tentang wisdom, bagaimana ini sebaiknya, bagaimana itu sebaiknya. Tetapi seluruhnya dilakukan profesional.

Pak Nirwan sering berdiskusi dengan terkait hal-hal teknis ?

Kalau ada masalah yang berat, dia diskusi. Kalau nggak ada masalah berat, dia tidak diskusikan. Dia ambil keputusan sendiri. Kalau saya dengar dari luar, ada masalah berat, saya datangi dia dan memberinya nasihat.

Setelah semua yang Anda raih, apa lagi yang menjadi mimpi dalam hidup ini ?

Jadi orang yang mempunyai wisdom dan banyak memberikan nasihat banyak. Saya banyak memberikan nasihat ke presiden tentang wisdom yang saya punya, misalnya penanganan masalah Papua.

Saya kira tidak ada menteri di Indonesia ini yang pernah ke Papua lebih banyak dari pada saya. Sampai di puncak gunung. Saya bertemu dengan pasukan pemberontak, tidak ada yang menembak saya. Saya cuma pakai baju begini. Orang ketakutan, tapi nggak ada yang nembak. Lalu kami bikinkan rumah dan saluran air. Umur saya kan sudah tua, sudah 64 tahun. Achievement-nya apa.

Terus terang saja, bahwa langkah dari perusahaan bakrie ini out of the box, misalnya waktu saya mau memperbesar Bakrie Sumatera Plantations. Saat mau beli, ayah saya tanya, dari mana duitnya, wkatu itu US$55 juta. Nanti kami cari deh.

Setelah jadi beli, ada seorang direkturnya mendengar bahwa kami mau memperbesar, kemudian dia bertanya, dari mana duitnya pak? Itu yang membuat saya kecewa. Saya jawab dari Tuhan.

Banyak orang tidak percaya bahwa Bumi membeli KPC & Arutmin. Bagaimana akhirnya bisa ?

Cara berpikir yang biasa adalah duitnya berapa, rencananya apa. Ada opportunity sesuai dengan strategi kami, lalu kami grab, uangnya kami cari belakangnya. Beli KPC [PT Kaltim Prima Coal], beli Arutmin [PT Arutmin Indonesia], kami nggak pakai duit.

Bakrie pada 2001 lagi bangkrut. Saya berbicara dengan Nirwan pada 2001, baru saja selesai restrukturisasi dan saham kami di Bakrie & Brothers tinggal 2,5%, sekarang sudah kembali ke 40%. Karena settelement-nya itu adalah utang dengan saham, 2,5% saham saya. Saya bilang begini, dunia ini ke depan, ada shortage energi, shortage air dan makanan.

Akhirnya kami pilih energi. Ok kalau energi gimana? Ingat saham kami di Bakrie & Brothers tinggal 2,5% dan kami tidak mempunyai apa-apa lagi, uang nol bahkan utang banyak.

Terus pada waktu itu diskusi sama Nirwan dan Indra. Mereka setuju dengan energi. Apa peluangnya? Opportunity-nya beli suatu perusahaan yang sekarang diambil oleh PT Pertamina. Namanya Arco kalau nggak salah. Berapa? US$600 juta.

Kemudian lain lagi apa? Batu bara. Saya bilang berapa? US$180 juta, belinya pakai uang nol.

Satu hal yang paling penting, kata-kata ayah saya, orang tidak akan pernah miskin dengan membayar utang. Begitu kami lakukan dengan seperti itu, bank tetap menghargai kami, maka kami berhasil, tanpa uang membeli Arutmin. Masih pinjaman, kami pinjam dari Bank Mandiri dan Jamsostek.

Semua kami lakukan akhirnya bisa, kami beri sweetener lagi. Nah, kemudian pada 2003, kami membeli KPC.

KPC tidak bisa begitu karena penguasa waktu itu memutuskan untuk tidak boleh memberikan pinjaman pada Bakrie, Jadi gimana? Berapa harganya? US$500 juta tambah ada profit dan sebagainya, sehingga kami mesti bayar US$700 juta. Uang kaca mata [seraya jarinya menunjuk bentuk kaca mata yang bulat alias nol]. Nggak ada uang.

Saya berangkat ke London untuk negosiasi dan sebagainya. Saya tawar US$300 juta, dia marah. Akhirnya dia bilang saya mau kasih angka 5 di depannya, akhirnya US$500 juta.

Di Indonesia semua orang ramai-ramai mau beli KPC, Pak Prabowo, kemudian ada Salim dan sebagainya.

Saya bilang, saya nggak mau beli KPC di dalam negeri. Saya mau beli yang punya KPC, yang punya KPC itu perusahaan induk ada dua yaitu Rio Tinto dan BP. 50%-50%, saya beli dua-duanya.

Orang-orang ribut di bawah [struktur kepemilikan saham], saya ambil di atasnya. Terus nggak punya uang, ini adalah keahlian Nirwan.

Setelah saya selesai berunding, saya bertanya ke Nirwan. Dari mana uangnya? Uangnya nol. Mesti bayar US$50 juta. Ya sudah kami cari kredit. Totalnya US$700 juta dan ternyata dapat kredit US$413 juta.

Bank di Indonesia tidak kasi, akhirnya dari Bank Singapura. Mahal sekali. Ya sudah nggak apa-apa. Kurang US$300 juta. Dari mana uangnya? Lagi-lagi inilah keahlian Nirwan. Dia bilang begini saja, dia hubungi kontraktornya KPC, kami mau dapat kontrak ini nggak? Mau katanya. Ok bayar dulu di depan, nanti uangnya saya beri tambahan untung untuk kembaliannya. Pemasaran Jepang, kasi ke Mitsubishi, bayar dulu berapa.

Pemasaran Eropa, pemasaran dunia. Akhirnya dapat US$300 juta. Padahal ini masih barang orang, bukan barang kami. Ini barang orang tapi kami ijon. Nah, pada waktu mau closing, settle the deal, kurang US$4 juta. Saya nggak punya duit, US$4 juta dari US$700 juta, nggak punya duit.

Tiba-tiba telepon dari Nirwan ketika saya lagi di mobil, Din [abang], bank menawarkan tambahan kredit, tapi dia minta suatu sweetener dan besar banget. Jadi dia beri tambahan US$4 juta, tetapi untungnya US$20 juta. Gimana, boleh nggak? Saya bilang, begini Wan, kalau menuruti hati saya, saya tidak mau. Terus dia bilang. Hati? Heart is only for lovers. Saya kaget. Ya sudah kalau begitu, Accept. Makanya kami memiliki KPC. Semua orang marah.

Pemerintah kan mengatakan Rio Tinto sama ini tidak boleh menjual lebih dari US$800 juta, semua orang bilang mahal tapi tidal ada yang nawar, kami tawar US$500 juta dolar, diberi.

Semuanya dari mana? Dari Tuhan. Selalu Tuhan yang beri petunjuk. Kenapa kami masuk energi? Kami berjualan pipa, tetapi masuk energi. Siapa yang beri?. Saya cuma bilang Allah kasih jalan. Waktu mau beli KPC, beli Arutmin, dan Freeport, begitu juga.

Kalau Freeport bisa ceritakan sedikit ?

Ketika itu Freeport ditawarkan ke semua orang, tapi tidak ada yang mau beli. Setelah kami ambil baru banyak yang mau. Pada waktu itu, saya deal langsung. Pak Ginandjar [Ginandjar Kartasasmita], duit mau dapat dari mana? Pak, itu soal Tuhan, nanti urusannya.

Pemeirntah mau beli nggak? Tanya Pak Martin, mau nggak? nggak. Ya sudah saya ambil.

Nah terus, emang tangan saya ini luar biasa dari Tuhan. Saya beli Freeport dengan harga pada waktu itu US$24 per saham. Pada saat saya dipaksa Pak Harto [mantan Presiden Soeharto] jual, harga US$29 per saham

Dalam 3 bulan, saham itu turun jadi US$6. Saya mau beli Goodyear, sama size-nya kira-kira. Harganya US$55. Saya beli US$55 lagi, mereka tidak mau. Kemudian, harga karet naik. Dia bilang US$95 juta. Saya tangkap. Saya bilang oke, saya accept. Direktur keuangan saya marah. Pak, kami tidak bisa bayar kembali. Saya bilang bisa. Harga karet waktu itu naik dari US$1 ke US$ 3 dolar per kilo.

Begitu US$3 dolar, tiba-tiba Goodyear membatalkan. Saya marah betul. Uangnya sudah ada. Kontrak sudah ada, terus dibatalin. Siapa yang batalin? Tuhan, bukan saya, lewat tangannya orang Goodyear. Dalam waktu kurang dari 6 bulan, harga karet turun dari US$3 dolar ke 60 sen. Mau bilang apa? Itu kan rezeki saya.

Waktu saya beli Arutmin dan KPC perhitungan saya, batu bara harganya US$25 per ton, orang belum ada bicara batu bara. Sekarang aja banyak. Sekarang harga batu bara US$70-US$80 per ton.

Tapi bisnis Keluarga Bakrie ada yang gagal, program mobil misalnya ?

Iya. Mobil sudah bikin jalan prototype dan sebagainya, kemudian datang krisis 1998, tinggal perlu US$40 juta, tidak bisa dapat, dan akhirnya bangkrut. Kalau konsep itu jadi, pasti booming. Sekarang ini belum ada mobil yang pakai kayak gitu. Tapi, percayalah sama Tuhan.

Ketika 1997, Bakrie terpukul karena berutang. Sekarang ini keberanian ini ada lagi. Apa tidak belajar dari krisis terdahulu ?

Berbeda. Kalau dulu utangnya itu didasarkan pada konglomerasi. Sekarang utangnya didasarkan pada program. Sekarang kalau kami lihat, dengan bank asing. Tidak ada lobi. Bank asing itu melihat bisa kembali tidak uang saya. Kalau bisa kembali, saya beri, kalau tidak bisa kembali, saya tidak beri.

Misalnya sekarang utang kemarin [Bumi Resources], di bayar US$360 juta, tadi malam diumumkan bahwa dapat lagi obligasi US$700 juta dengan bunga 10,75% per tahun. Itu lebih murah dari kredit yang ada dan bullet selama 7 tahun ke depan. Artinya selama tujuh tahun kami tidak bayar utang. Nah ini dipakai untuk bayar utang yang ada.

Tidak satu sen pun yang dipakai untuk perusahaan. Uutangnya menurun, semakin turun. Jual aset sebelumnya ini dapat US$180 juta. Jadi terus turun utangnya. Jadi selalu berdasarkan kemampuan dari perusahaan yang bersangkutan.

Itu yang kadang kala orang tidak ngerti. Lalu mengatakan bahwa ini ada politik. Masalah Freeport, itu tadinya Ginandjar tidak beri. Dia bilang mau dapat duit dari mana, saya bilang terserah Tuhan aja deh, Jadi KPC politiknya di mana? Pada waktu itu kan yang mau ngambil ada orang lain, saya tidak dibolehkan dapat kredit dari dalam negeri. Pemikiran selalu out of the box.

Out of the box seperti apa ?

Anindya ambil ANTV, dalam keadaan rugi, sekarang untung. TVOne yang waktu itu bernama Lativi rugi, sekarang untung. Pada saat untung kemudian bikin Vivanews, ada kredit baru untuk Vivanews itu. Dalam waktu 1 tahun, 2 tahun lah, sudah break-even point [titik impas]. Jadi, pemikiran selalu out of the box. Kalau orang tidak berani berutang, tidak bisa besar.

Di pemerintahan juga begitu Pemerintah kita takut sekali berutang. Kalau di perusahaan, katakanlah utangnya 60%, modal sendiri 40%. Pemerintah kita sekarang utang 26%, kekayaannya 74%. Itu kan terbalik, sehingga kita cuma growth dengan 6%.

Sekarang ini tidak ada lagi orang bakat bisnis di kabinet. Kalau saya berpikir begini, orang mengatakan, misalnya sekarang ini utang kita sekarang cuma 26% dari GDP, saya bilang apaan, mau ngapain? Tidak ada satu pun di dunia yang 26%.

Malaysia itu sampai dengan 46%, jauh di atas. Indonesia paling rendah sendiri. Lalu kemudian Malaysia defisit 6%, kita hanya 2,1% tahun ini, mau diubah lagi 1,7%. Kalau kita defisit 1,7%, sekarang saya perintahkan ke 'anak-anak' saya di DPR supaya pertahankan tetap 2,1% defisit itu. Itu setara dengan Rp28 triliun bedanya.

Dana Rp28 triliun itu untuk pembangunan, infrastruktur, buat Densus 88. Itu bedanya antara ketakutan dari 1,7% ke 2,1% itu Rp28 triliun setahun.

Apakah kita bisa bilang Malaysia sudah bangkrut dengan defisit 6%. Kan nggak. 60% deficit di Amerika. Kita tidak usah meniru itu. Kita dalam UU dibolehkan sampai 3% defisit. Kenapa tidak berani?

Pemikiran out of the box ini membuat kadang-kadang orang salah mengerti, sinis. Bagimana menghadapi kritikan itu?

Tenang saja. Kalau kita yakin apa yang kita buat, jalankan saja. Lihat lagu My Way. Jadi menurut saya, nggak usah pikirin kata orang, kami yakin aja. Kami bisa bayar kembali.

Prinsipnya, seperti kata ayah saya, tidak akan miskin dengan bayar utang, sehingga pada krisis 1998, bayangkan bagaimana psikologi seorang ibu saya. Suaminya membuat Bakrie & Brothers yang dimiliki 100%. Pada wkatu sebelum krisis, dimiliki keluarga Bakrie 55%, setelah krisis kami bayar semua, hanya tinggal 2,5%.

Di situ suatu mental. Suatu saat kita terbang dengan kelas I, suatu saat kita terbang dengan ini. Waktu krisis 1998, kertas mesti dipakai bolak balik.

Pada waktu itu saya ingat Exim Bank Amerika mengatakan saya tidak percaya kepada Bakrie. Saya bilang, ok, saya akan selesaikan, tetapi saya minta pernyataan itu anda cabut kalau saya bisa selesaikan. Begitu beres, mereka bilang, mereka fair, mereka katakana good company.

Banyak kasus yang sebenarnya memerlukan mental kuat. Lapindo misalnya. Semua orang menghujat Anda, bagaima tanggapan Anda?

Tidak usah bayar. Kalau kondisi benar, sebuah PT [perseroan terbatas] itu pemilik saham bertanggung jawab pada saham yang dimilikinya.

Itu barangkali kami mesti bayar Rp50 miliar. Itu saja yang dibayar tanggung jawab kami kalau PT salah. Kalau PT itu benar, dia lari aja, dia nggak bayar apa-apa. Secara bisnis begitu.

Namun, ada satu faktor pemersatu di dalam Bakrie, yakni ibu saya. Dia bilang, kalian ini rezekinya banyak. Sudah, jangan ngurusin salah benar, bantu mereka. Ibu saya bilang begitu. Tidak menyangka, sekarang kami sudah bayar sampai Rp8 triliun lebih. Dari mana? Dari jualin saham-saham kami. Cicil sampai 2012. Jadi mau nggak mau, karena itu prinsip kami.

Rezeki tidak akan hilang dengan menolong orang miskin dan orang susah. Tuhan tidak akan memberi kesulitan yang tidak bisa kami terima., Percaya pada itu aja. Orang ribut, sakit hati. Ya sudah, dibiarin aja. ANTV tidak pernah menjelek-jelekkan orang. Saya tidak mau menjelekkan orang, tetap aja, biasa aja, beritakan yang benar.

Jadi kalau Anda tanya gimana? Yah kesabaran saja. Memang saya mesti akui yang punya mental baja itu Pak Nirwan. Jadi Nirwan pada saat ada kesulitan, dia sudah berada di depan. Saya yang bantu mengatur, tetapi dia yang menghadapi di depan.

Saya banyak mendengar keluarga Bakrie itu selalu ingat pada budi baik seseorang. Misalnya Nalint [Nalinkant Amratlal Rathod, Komisaris Bumi] karena banyak membantu restrukturisasi pada 1998. Terus ada lagi Suryo B. Sulisto yang juga menjadi Preskom Bumi sejak lama.

Kami percaya pada kebaikan orang. Kalau kami menghargai kebaikan orang, maka kami membalas kebaikan itu. Akan lebih banyak lagi rezekinya. Yang banyak bantu kami dengan tunai pada waktu kami tidak bisa berbuat apa-apa, pada waktu krisis 1988, namanya Fuad [Fuad Hasan Masyur] dari PT Maktour. Dia bantu dengan tunai. Jaminan, nggak ada jaminan. Sampai sekarang terus sama-sama kami.

Masalah Lapindo yang tidak mau tanggung jawab. Ya sudah keluar saja, kami ambil sahamnya. Karena berat kan tanggung jawabnya. Jadi Santos dan Medco keluar. Ya sudah.

Kalau punya Medco, kami beli dengan US$1 saham itu. Ya sudah, tetapi prinsip bahwa kami mesti berani. Kalau kami sudah ambil keputusan, kami mesti jalanin. Bahwa orang nyerang, biarkan saja. Kami mesti berani bersikap. Kalau seorang laki-laki sudah tidak berani bersikap, jangan jadi laki-laki.

Ketika Anda masuk Golkar, ada tudingan langkah itu hanya kendaraan untuk melindungi bisnis Bakrie?

Bukan, kami malah diserang. Begini, kalau saya malah melihat pada 2000, susah ya kalau tidak mengetahui cerita yang sebenarnya. Kadang kala orang bilang bohong. Biarlah saya bercerita yang sebenarnya. Saya tidak pernah mau terjun ke politik. Waktu awal 2004, JK [mantan Wapres Jusuf Kalla] dan SBY [Presiden Susilo Bambang Yudhoyono] menang, saya ketemu Pak JK. Beliau memberikan nasihat karena waktu itu saya Ketua Umum Kadin dan Pak JK adalah Kadinda Sulawesi Selatan.

Beberapa kali saya kasih masukan. Terus mau apa Pak Ical? Saya penasihat aja deh. Jadi penasihat saja. Kamu mau menteri? Nggak lah, ngapain saya bilang. Waktu bulan puasa, saya dibangunin jam 10 waktu hari minggu. Saya diminta jadi Menko Perekonomian. Saya bilang nggak. Janjinya kan tidak begitu. Sebelumnya saya sempat ke umroh. Pada 2004 waktu saya baru selesai bayar utang. Itu 2003 November persisnya. Sudah selesai semuanya saya berangkat umroh, saya tanya: Allah, saya tanya masa depan saya ke mana. Saya tidak tahu apakah saya mesti ke dalam pemerintah atau di luar atau berbuat yang lebih besar kepada rakyat.

Saya shalat jam tiga pagi di depan Ka'bah kemudian saya berbicara kepada Allah, saya katakan kalau tugas saya adalah di tempat yang berhubungan dengan rakyat, tolong bukakan pintu buat saya, kemudian saya mencium Hajar Aswad tanpa ada halangan.

Waktu itu banyak sekali orangnya berkeliling Ka'bah. Saya bisa jalan, tidak ada yang nyentuh saya, terus sampai ke Hajar Aswad. Ada askar [petugas di Baitullah] bukannya menyuruh saya, tetapi dia ambil kepala saya dan suruh cium.

Kemudian saya masuk konvensi Partai Golkar, barangkali saya mesti di pemerintahan. Masuk konvensi dan kalah? Saya pikir kemudian, maksudnya saya pikir di Palang Merah Indonesia saja, menggantikan Pak Mar'ie Muhammad.

Datang tawaran Pak Kalla itu, saya pikir mungkin barangkali ini petunjuknya, terus kemudian saya diganti dari Menko Perekonomian ke Menko Kesra, banyak sekali pengalamannya.

Dengan pengalaman yang ada ini, presiden menawarkan kembali menjadi anggota kabinet. Saya bilang nggak, saya mau di mana, saya bilang ke Partai Golkar. Kenapa? Karena Golkar punya kekuatan yang lebih besar untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat bangsa ini. Kenapa tunjuk yang tadi, berbuat banyak lebih banyak lagi.

Jadi 2009 Anda sempat ditawari lagi ?

Iya semua orang juga tahu, karena presiden juga happy dengan pekerjaan saya di Menko Kesra.

Anda tilang tidak memanfaatkan TVOne dan ANTV sebagai kendaraan bisnis politik, tetapi kenyataannya pemberitaannya tidak independen?

Ah siapa bilang, itu urusannya mereka, siapa bilang tidak independen. Ada yang jelek lalu dimasukkan, sehingga menjadi baik. Nggak ada tuh.

Tapi kan publik menilai seperti itu ?

Tapi kenyataannya nggak. Kalau kami dibilang jelek, rating-nya nggak naik terus.

Di bisnis media, Grup Bakrie banyak mengalami kegagalan. Sekarang ini untuk TV, Anda maju ?

Saya lihat begini, dulu yang mengelola adalah generasi kedua. Generasi yang lebih pada satu budaya agrikultur dan industri manufaktur. Pada generasi ketiga, apalagi Anindya dari Stanford, sudah memiliki suatu pengetahuan mengenai informasi dan teknologi.

Pada waktu ANTV dipimpin Nirwan, rugi kan?. Dipimpin Anindya, terus untung. Bisnis telkom dipimpin saya, rugi kan? Dipimpin Anindya bisa untung.

Jadi masalahnya adalah tangan orang berbeda-beda.. Belum tentu Anindya bisa disuruh bikin pabrik pipa. Tapi teknologi informasi, dia kuasai dan saya tidak kuasai..

Namanya dulu Ratelindo, rugi terus kan? Diambil oleh Anindya, tidak sampai setahun, sudah untung. Jadi kalau ditanya bisnis ke depan, salah satu bisnis ke depan, adalah informasi dan teknologi. Ini bisnis di masa yang akan datang.

Dulu telepon belum pakai data, kalau telepon baru pakai buat percakapan. Kalau kita lihat Korea lebih banyak pakai data. Sekarang sudah lumayan. Orang sudah menggunakan BlackBerry. Future-nya ke situ.

Selain teknologi informasi, kira-kira bisnis apa yang menurut Anda prospektif ?

Terus terang saya nggak tahu. Itu biarin saja. Tapi saya punya visi ke situ. Film, konvergensi, saya tidak tahu persisnya apa. Anindya bikin yang namanya Bakrie Connectivity. Saya sendiri tidak mengerti. Dia terangin, saya hanya ya ya, tetapi sebenarnya tidak mengerti.

Bagaimana hubungan yang ideal antara bisnis dan pemerintahan seperti apa ?

Bisnis berkepentingan mendukung suatu kebijakan pemerintah yang menguntungkan. Misalnya dengan pajak yang rendah, tidak ada pungutan, dan sebagainya.

Suatu aparat pajak dan aparat pemerintahan yang bersih. Itu kepentingan yang didukung melalui partai politik. Itu hubungan yang paling baik.

Kita belum biasa seperti itu, menteri-menteri kita biasanya berkata bahwa orang bisnis itu konotasinya masih jelek. Saya ingat pengalaman waktu mau ketemu neneknya istri saya.

Dia tanya, kamu kerjanya apa, mau melamar cucu saya? Saya jawab. Dagang mbah. Dagang? Kata dia bahwa berdagang itu maling. Sekarang ini citra negatif sudah mulai berkurang. Akademisi boleh masuk pemerintahan, militer juga boleh, tapi para pebisnis malah dicurigai. Kenapa? Ini belum ada pengertian dari masyarakat bahwa bisnis itu baik.

Kami melihat Bisnis Indonesia sebagai koran bisnis ketika itu [pada 1980-an] sebagai yang aneh. Tidak pernah ada tren koran ekonomi kok [para investornya] punya koran bisnis. Padahal [ketika itu juga] ada koran bisnis [yang lain]. Sekarang paling bagus, kemudian orang ikut semua, ada Investor Daily, dan lain-lain.

Orang boleh lihat bahwa bisnis itu tidak jelek, bukan maling. Jadi hubungan dengan politik, yang wajar aja, dia [pelaku bisnis dan politik] mesti di-support, tentu orang mesti berusaha.

Bagaimana pandangan Anda mengenai etika dan governance dalam berbisnis ?

Begini, harus ada itu etika dan governance dalam bisnis. Tapi kalau kami lihat standar governance itu apa? Amerika, kami bisa lihat orang Amerika yang masuk, apakah ada standar governance-nya? Setiap kali orang Amerika bilang bagaimana governance di Bumi Resources, saya bilang I am sure that is much better than you in your state. Jadi governance itu perlu. Tapi standarnya apa? Belum tahu, Jangan pakai standar Amerika.

Grup Bakrie mempunyai 7 perusahaan tercatat di bursa. Kemudian Bumi mendapat pinjaman US$1,9 miliar dari CIC. Latar belakangnya apa ?

Kalau tidak mempunyai uang, terus cari dan dapat uang berapa saja. kalau dia bayar 19%, tetapi dapatnya 35% bagus tidak? Tidak bisa dapat yang 10% [bunganya], nggak ada yang mau beri. Hitungnya begitu.

Saya ingat waktu itu diajarin Freeport [Jim]. Dia sewa dan bayar 11%. Harbour-nya dia sewakan, hotelnya dia bangun, dia jual, dan dia menyewa lagi. Return on investment-nya 11%. Saya tanya yang sama. Kenapa katanya kamu punya utang, tapi tidak bayar bunganya 11%. Dia bilang eh Ical, kami dapat uang harganya 11%, Kami taruh di bisnis tambang, tetapi harganya [bunganya] 30%. Utung nggak kami?. Ini juga begitu.

Memang orang tanya, kenapa tidak ambil yang 8%? Bisa nggak ambil yang 8%.

Ada satu fund manager bilang, beli saham Grup Bakrie itu sama saja membeli komoditas politik?

[Pemilik saham] Tidak ada yang jual tuh. Artinya [mereka] mau dukung Golkar dong. Alhamdulillah, bilang sama dia.

Selama politik Anda kuat dan stabil, menurut mereka aman beli saham Grup Bakrie ?

Begini, Bakrie lahir tahun 1942. Saya baru masuk pemerintahan 2004. Selama 62 tahun Bakrie hidup tanpa politik, jadi jawabnya itu saja.

Tetapi citra di bursa, orang boleh beli saham lain, asal jangan beli Grup Bakrie karena seperti itu ?

Kalau sekarang kan, Bumi itu saham sejuta umat. Tidak ada perusahaan yang pemegang sahamnya lebih besar dari Bumi.

Apakah untuk hit and run atau tidak, semua orang bisa untung. Kalau sekarang orang boleh bilang begitu. Tapi sekarang maju terus. Sekarang malah ada BRM [PT Bumi Resources Minerals] yang mau IPO. Saya tidak mengetahui valuasinya-nya berapa.

CIC beri pinjaman ke Bumi dan Bumi baru saja menyelesaikan non-preemptive rights dan menerbitkan obligasi US$700 juta. Apa benar ada investor China yang masuk?

Belum. Saya nggak tahu sama sekali. Tapi ada investor China yang mau masuk.. Detailnya saya nggak tahu.

Bumi kan punya aset yang bagus seperti KPC & Arutmin. Tapi harganya masih di level Rp2.000-an. Ada perusahaan lain yang punya aset lebih kecil, tapi harganya tinggi. Seperti apa bapak melihat ini?

Kami lihat saja. Kalau saya sih optimistis harga saham Bumi akan kembali lagi ke posisi yang lalu. Optimistis saja.

Bagaimana hubungan Anda dengan Cikeas. Kalau dilihat, seperti sandiwara saja ?

Bukan sandiwara. Benci tapi rindu.

Di satu sisi, staf khusus presiden menyerang soal pajak terus, Gayus bernyanyi, tetapi di sisi lain Anda juga di Setgab Ketua Harian. Sebenarnya yang terjadi apa sih?

Kayak Manchester United dan Chelsea saja. Bersahabat.

Perkataan Staf Khusus Kepresidenan Denny Indrayana bikin panas telinga ?

Ya tidak apa-apa. Kalau orang kecil bicara boleh aja dong. Biarkan saja. Tidak ada yang dengar juga kan.

Apakah Anda tidak terganggu ?

Nggaklah. Kami juga bicara di DPR. Orang DPR juga bicara pemerintah tidak fair. Boleh juga kan?

Tapi akhirnya dalam 'pertandingan tinju' ini selalu Anda yang menang ?

Nggak. Kami mendukung kebijakan Presiden SBY.

Saya kira mulai dari Golkar, Kadin, semuanya ini dikatakan sebagai kemenangan Anda ?

Di Kadin, SBY tidak ikut-ikutan. Saya kira Kadin itu tempat mainnya saya. Saya 10 tahun di Kadin. Hubungan saya dan SBY bukan kalah dan menang. Tidak banyak orang bahkan di sekeliling SBY yang berani bilang ke SBY yang benar.

Persoalannya, saya selalu bilang yang benar, meskipun di kuping panas. Saya memang seperti itu. Banyak yang tidak suka, ya tidak apa-apa. Tapi, saya beri tahu yang benar, untuk kepentingan bangsa ini.

Makanya saya tetap mengatakan tidak boleh ada kenaikan TDL lagi. Karena industri akan mati. Kalau industri mati, rakyat juga mati. Kalau bujet itu, kalau perlu tambah defisit, ya tidak ada masalah, tetapi jangan bikin industri kita mati. Menurut saya kalau bicara TDL yang mesti disalahkan adalah berapa cost price PLN. Itu akan menyangkut banyak kepada apa energi yang dipakai.

Saya dengar PLN impor lagi 1.000 buah generator BBM yang 1 megawatt. Berarti tambahan lagi subsidi. Itu nggak benar.

Sering berkomunikasi dengan Pak SBY ?

Sering sekali. Sebagai manusia, tentu ada yang senang dan tidak senang, tapi orang di luar tidak senang. Tapi saya berprinsip satu hal,. Indonesia sudah berkali-kali dari Zaman Soekarno, Soeharto, kemudian Gus Dur, dan Habibie juga ditolak. Masak presiden tidak sampai 5 tahun. Di Golkar, instruksi saya jelas bahwa pemerintahan SBY harus bisa bertahan sampai 2014. Itu prinsip.

Setelah 2014, baru giliran Anda ?

Bukan. Ha ha ha...

Kan sudah jadi ketua umum partai ?

Kan tidak harus. Presiden Barack Obama bukan ketua umum partai. SBY juga bukan.

Ada niat ke sana ?

Niat? Nggak ada. Karena kami bukan keluarga [politisi], makanya niat nggak ada. Saya juga sadar orang-orang di Golkar. Begitu Golkar naik ke posisi satu, naik saja suaranya dari posisi 14% menjadi 20%, pasti orang akan mencalonkan saya. Pasti begitu. Kita lihat nanti, apakah itu sesuai dengan harapan rakyat atau tidak.

Yang paling tepat buat saya adalah menjadi penasihat presiden. Saya masih bisa jalan-jalan, saya masih bisa memberi nasihat. Karena pengalaman saya banyak. Saya punya bisnis, saya tahu orang AIDS, tentang orang di Papua, Gerakan Papua Merdeka, saya mengerti asing maunya gimana. Tapi sekarang masalahnya kalau ditanya bagaimana niat? Saya bilang nggak ada. Tetapi bukan berarti saya nggak akan accept suatu waktu. Kalau terpaksa, seperti waktu saya accept tawaran Pak Kalla menjadi Menko Perekonomian.

Apakah Anda yakin Golkar bisa berkembang, apalagi Anda terkenal tangan dingin ?

Allah kasih jalan. Dengan usaha, konsolidasi sudah selesai. Kaderisasi tahun depan kaderisasi kami. Kami lihat kemenangan pilkada, Golkar nomor satu. Ini harapan besar. Kedua, kemauan kami, semua sudah mau partai menggunakan satu media untuk iklan. Dan yang paling penting adalah wining is habbit. Waktu dengan Suryo Paloh, saya bilang kalau orang kalah terus, yah kalah terus. Kalau orang menang, yah menang.

Itu sudah dimulai dari Hipmi ?

Iya dari Hipmi.

Tahun 2014 masih lama ? Bagaimana kondisi Indonesia ke depan ?

Saya ngeri (off the record).

Selama mengembangkan bisnis, apa yang paling berat Anda rasakan? Pengalaman paling berat?

Apa yah yang paling berat...mengelola ambisi.

Lantas bagaimana Anda mengatasinya ?

Kadang-kadang salah, kadang-kadang benar. Kebanyakan benernya, salahnya juga ada. Tapi memanage ambisi paling susah.

Ujian yang paling berat ada 3 yaitu harta, tahta, dan wanita. Bagi Anda mana yang paling berat ?

Ha ha ha..., semua bisa di-manage

Momentum apa di hidup Anda, yang membuat Aburizal Bakrie seperti sekarang ?

Semuanya berjalan mengalir. Terbentuknya saya seperti sekarang dari pengalaman hidup saya. Cara berpkir saya kan bukan ekonom. Cara berpikir saya lebih kepada realitas bahwa apa yang bisa dijalankan.

Ekonom pakai beberapa teori yang belum tentu cocok. Deng Xiaoping bilang, kalau di lapangan kita lihat teorinya tidak cocok dengan teorinya, tinggalkan teorinya. Kalau pengalaman saya yang paling besar terakhir ini di Menko Kesra.

Saya ke Yahukimo, Papua. Bayangkan di negara Indonesia ada orang yang belum tahu bagaimana caranya gosok gigi, bagaimana caranya memacul. Itu membuat saya trenyuh. Saya lihat orang sakit AIDS. Saya lihat paniknya dunia karena flu burung, itu pengalaman pribadi yang luar biasa.

Waktu ke Papua. Saya dipeluk-peluk mereka, tak ada rasa takut sedikit pun.

Bagaimana pesan Anda untuk pebisnis Indonesia ?

Di bisnis itu selalu jatuh bangun dan harus konsisten menjalankan bisnis itu. Saat kita jatuh, jangan pernah berdiri di tempat gelap. Sebab kalau berdiri di tempat gelap, bayangan pun akan lari. Apalagi teman, apalagi bank, karena bank itu selalu melihat yang bagus. 


Bisnis.com/Media Pontianak

Monday, 11 October 2010

Pelatih Uruguay Tertarik Latih Indonesia

MediaPontianak, Peluang Timnas Indonesia untuk tampil memukau di tingkat International terbuka lebar jika keinginan Oscar Washington Tabarez, pelatih Uruguay disambut dengan kerjasama nyata, berikut laporannya dikutip dari id.news.yahoo.com

Pelatih Uruguay, Oscar Washington Tabarez, mengeluarkan pernyataan menarik. Mantan pelatih AC Milan ini membuka diri untuk melatih Timnas Indonesia yang saat ini sedang dibesut oleh Alfred Riedl.

"Kenapa tidak? Saya siap jika kontrak saya bersama Uruguay sudah berakhir," jelasnya seusai mendampingi anak-anak asuhannya berlatih di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Kamis (7/10/2010) malam.

Tabarez mengungkapkan kalau sepak bola Indonesia bukan lah hal yang ia baru kenal. Ia sudah mengetahui mengenai sepak bola Indonesia ketika Timnas U-16 berlatih di Uruguay beberapa waktu lalu.

Pria yang ramah ini mengatakan kalau Indonesia punya potensi untuk berprestasi di dunia internasional. "Anda punya kualitas pemain yang sebenarnya bagus-bagus. Gaya permainan Indonesia juga cepat," imbuhnya.

Saat ditanya mengenai formasi yang akan dipakainya saat melawan tim merah putih, Tabarez menjanjikan akan memasang pemain intinya. Luis Suarez akan diduetkan bersama Edison Cavani di lini depan La Celeste.

"Kami juga tak takut menghadapi permainan keras Anda," cetusnya.

Tabarez juga puas dengan kondisi rumput Stadion GBK yang dnilainya tebal dan mulus. Hanya saja ia mengeluhkan panasnya cuaca di Jakarta. "Anak-anak saya merasa kok panas sekali di sini. Kami banyak minum air putih selama di sini," candanya.

Timnas Uruguay menjajal lapangan Stadion GBK pada Kamis (7/10) malam mulai pukul 20.00 hingg 21.00 WIB. Wartawan Indonesia diperbolehkan untuk mengintip latihan Uruguay selama 15 menit. Para pemain Uruguay tampak berlatih ringan dengan menendang bola dan senam ringan.

Sebelum berlatih, para pemain dan staf Uruguay menyempatkan diri berjalan-jalan di Mall Senayan City selama 1,5 jam. Kehadiran mereka di sana membuat heboh puluhan pengunjung, terutama perempuan. Sejumlah fans merminta para pemain Uruguay untuk melakukan foto bareng dan menandatangani kaos atau bola.

Fajar Anugrah Putra